Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 9

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 11

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 17

Notice: Use of undefined constant hostname - assumed 'hostname' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant username - assumed 'username' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant password - assumed 'password' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Deprecated: mysql_pconnect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant database - assumed 'database' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 4
SINEMART

Aura Kasih : Tantangan Menjadi Anak Kembar

Pemilik nama lengkap Sanny Aura Syahrani mengakui bermain di sinetron Pashmina Aisha adalah tantangan baru. Soalnya dalam waktu yang bersamaan dia harus memerankan dua tokoh yang amat bertolak belakang. Dia harus memerankan anak kembar yang berperangai amat berbeda karena pola asuh dan lingkungan yang memperigaruhinya.

Harus memerankan tokoh yang berbeda, yang satu lembut dan penurut, sedangkan yang satunya lagi tegas dan tegar, memang perjuangan tersendiri. Karena peran yang berbeda itu, tidak jarang Aura terkadang "terpeleset" memerankan karakter yang satu. Sementara mestinya ia memerankan karakter yang lain.

Nah bagaimana perempuan kelahiran Bandung, 23 Februari 1988 ini melakoni peran yang berbeda dalam satu produksi sinetron. Berikut petikan wawancara C&R dengan penyanyi Mari Bercinta tersebut saat disambangi di lokasi syuting di bilangan Kebagusan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Bagaimana Anda mempersiapkan diri bermain sinetron ini?

Yang pertama saya lakukan adalah membaca skenario yang diberikan sutradara. Bagaimana cerita sinetron ini secara umum. Ada karakter Aisha yang sensitif dan sering menangis, sedangkan Pashmina justru kebalikannya. Dia itu sosok yang tegar dan terkesan sedikit angkuh. Untuk memerankan sinetron ini saya mengalir saja dan yang terpenting adalah menuruti arahan sutradara.

Mengapa sempat tertukar karakter saat syuting?

Haha, Iya benar itu terjadi di awal-awal episode tetapi lama kelamaan sudah terbiasa. Itulah tantangannya memerankan tokoh yang berbeda, tokoh manusia kembar dalam waktu yang bersamaan. Meski sudah ada perbedaan yang jelas antara karakter Aisha dan Pashmina, kadang kala tertukar juga. Sutradara akan mengingatkan, misalnya perbedaan intonasi yang saya ucapkan antara dua karakter.

Apakah Anda melakukan observasi atau menonton film tertentu sebagai bahan referensi?

Saya pernah nonton film atau sinetron yang menampilkan karakter kembar, tetapi Saya lupa judulnya. Namun saya tidak sepenuhnya mengacu ke sana. Saya mengeksplorasi peran sendiri dong. Kan ceritanya berbeda. Memang karakter orang kembar yang dimainkan seorang aktris atau aktor menjadi tantangan buat si pemeran itu sendiri. Saya kan bukan orang kembar. Hahaha

Anda terlihat menyuguhkan akting yang pas dan sutradara langsung mengambil one take. Apa tipsnya supaya lancar syuting?

Tidak ada tips khusus. Mungkin karena saya benar-benar membaca skenario sampai menjiwai apa yang akan saya perankan. Jadi saat melakoni adegan itu saya merasa tidak sedang berakting, tetapi melakoni apa yang ada dalam kisah ini. Jadi saat beradegan seperti menumpahkan pengalaman sendiri saja. Ketika memerankan Aisha, saya melebur menjadi Aisha. Begitu juga saat memerankan Pashmina.

Bagaimana bisa melakukan adegan menangis tanpa bantuan obat tetes mata?

Ada orang yang menggunakan alat bantu, namun saya tidak. Soalnya kalau menggunakan alat bantu air mata memang bisa keluar namun mimik sedihnya terkadang tidak dapat. Yang saya lakukan adalah membangun rasa bagaimana menjadi Aisha. Saat saya lebur menjadi tokoh ini dan dilanda kesedihan, air mata itu akan keluar dengan sendirinya. Keluarnya air mata itu diiringi dengan mimik yang sedih. Kalau dengan alat bantu tak bisa seperti itu, alias tidak natural.

 

(C&R, Edisi 811, 12-18 Maret 2014)