Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 9

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 11

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 17

Notice: Use of undefined constant hostname - assumed 'hostname' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant username - assumed 'username' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant password - assumed 'password' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Deprecated: mysql_pconnect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant database - assumed 'database' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 4
SINEMART

Nikita Willy : Muda, cantik, berprestasi, sukses dan kaya

MUDA, cantik, berprestasi, sukses, dan kaya. Gambaran ini menjadi sebuah pembuktian bahwa dengan kerja keras, tak mustahil seseorang mencapai kesuksesan di usia yang masih terbilang muda. Tepat di titik inilah fase kehidupan aktris muda Nikita Purnama Willy (19). Terus mengeksplorasi bakat dan tak mau berhenti belajar men­jadi 'mantra' yang mendorong dara kelahiran 29 Juni itu untuk terus berkarya. Namun, ada satu impiannya yang masih harus menunggu.

Namun, karier yang melejit, serta kejaran uang tidak lantas membuat artis muda terkaya di tanah air ini terbuai dan bersantai-santai. Ia sadar bahwa tingginya kompetisi serta cepatnya perputaran roda popularitas di bisnis hiburan harus dihadapi dengan kerja keras dan komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan.

"Kalau ditanya, apakah dunia keartisan memiliki masa kedaluarsa, maka jawabannya adalah tergantung pada diri masing-masing artis. Kalau kita terus mengasah talenta kita, sehingga tidak hanya berputar di hal yang sama, insya Allah kariernya akan terus berlanjut dan orang-orang juga akan terus menunggu karya kita," jawab aktris yang bernaung di rumah produksi Sinemart ini, bijak.

Tidak sekadar bicara, Nikita membuktikan ucapannya ini dengan secara serius dan kontinu mengembangkan bakat lain yang ada dalam dirinya, justru saat sedang berada di puncak. Salah satunya, mengembangkan bakat bernyanyinya. Ia ingin menepis anggapan orang terhadap tudingan 'aji mumpung' dengan menelurkan single dan album, yang terus berlanjut dari tahun 2010 hingga 2013.

Beberapa lagunya yang cukup dikenal adalah single religi Keyakinan Hati, Kutetap Menanti, Pantas Untukku, dan Lebih Dari Indah (2011), yang mengiring sinetronnya, Putri Yang Ditukar.

Tidak gampang

Keseriusan dan totalitasnya dalam berkarya juga sering membuat namanya masuk dalam deretan nomi-nasi penerima berbagai penghargaan. Ia pernah dua kali berturut-turut menyabet gelar sebagai Aktris Terbaik di ajang Panasonic Gobel Awards di tahun 2010, 2011 dan 2014. Di PGA 2014 ini Nikita berhasil menyabet predikat Artis Terfavorit mengalahkan Citra Kirana, Alyssa Soebandono, Shireen Sungkar dan Acha Septriasa.

"Sudah dua tahun belum beruntung. Dengan piala ini aku semakin bertanggung jawab, makin bagus lagi, aktingnya dan semuanya. Piala ini untuk mami aku, yang terus dukung aku," katanya. “Aku enggak nyangka, udah dua tahun belum beruntung. Aku gak berharap banyak tapi dapet."

Kesemua pencapaian ini tidak diraih dengan jalan gampang. Ia harus mau 'berjalan' beberapa mil lebih jauh untuk mencapai kesempurnaan. Ketika memperoleh peran sebagai penderita kanker di sinetron Surat Kecil Untuk Tuhan, misalnya. Ia tak hanya puas mempelajari karakter tokoh lewat skrip. Ia juga melakukan riset melalui in­ternet, bertandang langsung ke rumah sakit kanker, dan yayasan untuk anak-anak penderita kanker.

Di tempat-tempat itu ia tidak hanya belajar mengenal tentang kanker, tapi juga merasakan apa yang dihadapi oleh anak penderita kanker yang berada di usia yang tak jauh darinya. Ia melihat, bahwa sama seperti anak-anak sehat lainnya, mereka tetap ingin belajar dan sekolah.

Sebagai Aktris Terfavorit versi Panasonic Gobel Awards (PGA) 2014, Nikita Willy (19) merasa karier be-raktingnya belum lengkap jika tak mencicipi peran yang berbeda. Maklum, selama ini Nikita identik dengan karakter protagonis dalam sinetron seri.

"Berbagai macam peran aku jalani, walau semuanya protagonis. Aku menunggu peran yang belum aku jala­ni, mudah-mudahan," kata Nikita di sela acara syukuran yang diadakannya di rumah, kawasan Jatiwaringin, Jakar­ta Timur, untuk penghargaan Aktris Terfavorit versi PGA 2014.

Bagi Nikita, penghargaan yang diterimanya harus "dibayar"-nya dengan menjaga dan meningkatkan kualitasnya dalam berakting.

"Mendapatkan award ini tanggung jawab buat aku, aku harus lebih baik lagi dan memertahankan," ujarnya.

Lalu, apakah honornya akan pula bertambah?"Kalau untuk honor atau apa, itu urusan Mama aku. Aku menjalani sinetron sebagai hobi aja. Menjalani dengan senang hati," ujar dara yang dimanajeri oleh ibunya ini.

Sebagai artis berpendapatan tinggi, Niki­ta tetap menempatkan diri sebagai seorang anak  yang   memercayakan   pengelolaan keuangannya kepada ibunya, yang sekaligus bertindak sebagai manajernya. "Buat saya, mama adalah Ratu di rumah, sementara saya dan Winona, adik saya, adalah princess-princess-nya. Kalau ingin membeli sesuatu, saya akan minta ACC' mama dulu. Termasuk saat ingin membeli iPhone," ungkap putri sulung dari Henry Willy dan Yora Febrine ini.

Meski begitu, ia senang telah ber­hasil membangun sebuah rumah megah dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Rumah tiga lantai dengan 8 kamar yang dilengkapi oleh kelam renang dan ruang karaoke itu berdiri di atas tanah seluas 800 meter persegi, di daerah Jatiwaringin, Ja­karta Timur. "Rumah itu adalah kado untuk mama. Jadi, konsep desainnya semua saya serahkan pada mama," ungkap Nikita, tentang rumah bergaya arsitektur Eropa itu.

Dunia bisnis hiburan yang sangat menuntut sempat membuat Nikita kewalahan dan harus mengorban-kan sekolah. Ia pernah undur dari SMAN 3 Jakarta di awal 2012, dan memilih jalan home schooling milik Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi.

Ia juga sempat mengenyam kuliah selama satu semester di  jurusan  Business  Manage­ment,  sebelum   memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak  menjawab   kebutuhan-nya. "Saya tidak terlalu suka teori.  Meski  saat mengerjakan ujian mendapatkan nilai 100, setelah itu saya tidak tahu apa-apa lagi," un­gkap wanita yang selalu meraih nilai tinggi di dunia pendidikan ini.

Kini, kerinduan untuk kembali ke dun­ia sekolah ini begitu kuat memanggilnya. Tetapi, ia masih harus menunggu. "Kare­na mama dan papa sudah bercerai, saat ini saya ingin konsentrasi dulu untuk bekerja buat mama dan adik saya. Setelah itu, jika waktunya sudah lowong, saya ingin sekolah lagi," ungkapnya. Kali ini, ia berencana mengambil kelas di sekolah culi­nary, mengambil jurusan Chef!

Rupanya, memasak menjadi kegiatan yang menghibur di sela-sela jadwal padatnya. Kalau sudah begini, orang-orang terdekatnyalah yang kebagian senang. Salah satunya kekasihnya, Diego. Saking cintanya, Nikita sampai harus browsing internet untuk mencari resep Boerenkool, makanan khas Belanda di musim dingin yang sangat disukai Diego.

Diam-diam, saya belajar membuat makanan kesukaan Diego ini dari video YouTube di internet. Niat sekali ya!" ujarnya tertawa. Namun, kerja keras diam-diamnya ini terbayar saat melihat wajah sumringah Diego dan pujiannya saat menikmati Boerenkool olahannya. Romantis 'kan ?

 

(BINTANG FILM, Edisi 32, Mei 2014)