Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 9

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 11

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 17

Notice: Use of undefined constant hostname - assumed 'hostname' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant username - assumed 'username' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant password - assumed 'password' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Deprecated: mysql_pconnect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant database - assumed 'database' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 4
SINEMART

BERKAH : Merasakan surga dan neraka saat masih hidup

 

Melongok syuting sinetron stripping, memang perlu tenaga ekstra. Seperti sinetron Berkah misalnya. Syutingnya dilakukan di dua tempat - Studio Persari dan salah satu rumah penduduk di Jagakarsa - sehingga untuk mendapatkan laporan lengkap harusnya mondar-mandir di kedua tempat itu.

Itu baru lokasi syuting, belum lagi dengan 3 Team yang dibentuk untuk memenuhi proses kejar tayang, cukup melelahkan juga. Setiap team yang dikomandoi oleh seorang co-sutradara, membuat kita harus pandai-pandai memantau, adegan mana yang menarik untuk diliput.

Namun suasana yang hiruk pikuk itu, menjadi begitu menyejukkan, karena suasana syuting sinetron Berkah ini sangat relegius dan sejuk. Dan kalau ditelisik, cerita sinetron yang dibesut oleh sutradara Ahmad Yusuf ini, me­mang berbicara tentang kebahagiaan, tentang surga dan neraka.

"Banyak yang mengira surga dan neraka itu ada jika kita sudah mati. Padahal ketika masih hidup-pun kita bisa merasakan, surga apa neraka. Inilah awal dibuatnya sinetron seri Berkah ini," kata Ahmad Yusuf, selaku penggagas ide cerita dan sutradara kepada Bintang-Film, yang menemuinya di lokasi syuting.

Kemudian Ahmad Yusuf memberi contoh : "..kalau hari ini kita bangun dengan rasa syukur dan bahagia, maka hari itu syurga. Tapi kalau kita bangun tidur dalam keadaan gelisah, cemas dan kesal, kita tidak bahagia. Maka hari itu akan menjadi neraka. Jadi.....neraka dan surga sesungguhnya ada dalam pikiran kita."

Ini digambarkan pada sosok seorang gadis cantik yang bernama Irene (Irish Bella), yang punya banyak harta, tapi keluarganya selalu ribut dan berebut harta. Sehingga rumahnya yang besar, mobilnya yang banyak, tapi hidupnya seperti berada di neraka. Sebaliknya, ada keluarga sederhana tetapi hidupnya tenang, damai, selalu taat beribadah, ingat pada Allah, senang berbagi namun hatinya bahagia. Itulah keluarga Ibu Nani, Ibunya Jaka (Debbie Sahertian).

"Oh, saya menemukan ketenangan dan kedamaian. Saya seperti mendapatkan sebuah syurga di hati saya", Irene ketika mengunjungi keluarga Jaka (Samuel Zylgwyn). Kunjungan ini sebagai permohonan maaf Irene setelah mobil yang dikemudikannya menabrak Jaka.

Dari pertemuan yang singkat itu, Irene mendapat pelajaran, bahwa keluarga Ibu Nani tidak menjadi silau dengan penampilan Irene. Dan dari situlah, awal dari cinta segitiga antara Irene, Jaka dan Aisah (Meida Sevira), gadis berjilbab yang sangat religius.

Guliran cerita - rebutan warisan, cinta segitiga, suasana kesederhanaan Ibu Nani, kisah cinta sang ustazah dengan latar belakang lingkungan Betawi - digarap oleh 3 Team yang bekerja secara all out. Team 1 dipimpin oleh co-sutradara Limbong yang menyelesaikan adegan di rumah mewah dimana sang kakek (Drg. Fadly) yang tengah sekarat, dipusingi dengan rebut-ribut soal harta warisannya. Sementara Team 2 dengan co sutradara Konawa, menggarap lingkungan keluarga Bu Nani dan Wak Jamil (Rasyid Karim) yang asli Betawi.

Yang menarik, adalah kemampuan Bu Nani yang diperankan oleh Debbie Sahertian, den­gan dialog Betawi. Padahal, dia lahir dan hidup dari keluarga berasal dari Ambon, Jawa dan Belanda. Belajar dimana?

"Dari almarhum Meggy Z. Sebelumnya , saya sering nonton Bang Anen saat tampil di acara lenong di TVRI. Selain itu, logat itu saya dapat ketika ikut main di Lenong Rumpi. Dan di Berkah ini, saya juga mendapat masukan dan arahan, bagaimana selayaknya sosok seorang wanita Betawi. Jadi, kalau Anda lihat saya be­gitu fasih berlogat Betawi, ya peran sutradara sangat membantu sekali," ungkap Debbie.

Masih di area yang sama - studio Persari -co-sutradara Rusli dengan crew Team 3, mem­buat nuansa lebih kental lagi. Adegan perte­muan antara Wak Jamil dengan Ustazah (Cut Mini) serta Aisah, diramu dalam percakapan berdialog Betawi yang linear. Ungkapan jatuh hatinya Wak Jami pada Ustazah, dihadirkan dalam dialog yang apa adanya.

"Sinetron saya memang selalu membumi. Masalahnya dekat dengan masyarakat. Masalahnya punya nilai-nilai religi, nilai panutan, nilai dakwah, tapi tanpa menggurui. Itu yang biasa saya bikin, " Tegas Ahmad Yusuf, "harapan saya, seperti yang sudah sudah, sin­etron saya Insya Allah akan disukai dan akan jadi tontonan alternatif bagi penonton".

Itulah barangkali kunci dari keberhasilan sinetron Berkah produksi SinemArt yang ditayangkan di RCTI, yang sekarang tengah merambat sebagai salah satu sinetron yang digemari.

 

(BINTANG FILM, Edisi 19, Maret 2013)