Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 9

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 11

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 17

Notice: Use of undefined constant hostname - assumed 'hostname' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant username - assumed 'username' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant password - assumed 'password' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Deprecated: mysql_pconnect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant database - assumed 'database' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 4
SINEMART

7 Manusia Harimau : Adjie Pangestu pun Demam

Seperti pekerja di bidang lainnya, pemain sinetron juga harus bekerja dari pagi hingga malam setiap hari demi mengejar target produksi sinetron stripping. Di lokasi syuting, mereka pun ditempa oleh perubahan cuaca jika syuting dilakukan di outdoor. Seperti adegan perkelahian di sinetron drama laga, artis pun mengalami kepanasan dan kehujanan. Seperti yang dialami Adjie Pangestu, saat syuting sinetron 7 Manusia Harimau di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Perubahan cuaca yang cukup ekstrem belakangan di beberapa wilayah Indonesia, seperti dari panas secara tiba-tiba berubah menjadi hujan disertai udara dingin, tak ayal memengaruhi kesehatan para artis yang terlibat dalam pembuatan sinetron 7 Manusia Harimau. Seperti diketahui, syuting sinetron terbaru produksi SinemArt Productions itu berlangsung di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Tengoklah yang dihadapi oleh Adjie Pangestu, beberapa hari lalu ia sempat mengalami demam, usai melakukan adegan perkelahian. Harap maklum, syuting di lakukan pada malam hari di tempat terbuka alias outdoor. Celakanya cuaca sedang gerimis dan udara terasa dingin.

"Saya sedang lakukan pengambilan adegan eh tiba-tiba hujan. Karena tanggung, akhirnya syuting terus dilanjutkan. Jadi saya berkelahi dengan pakaian dalam kondisi basah-basahan. Eh, keesokannya saya jadi demam dan masuk angin. Hahaha," ujar Adjie Pangestu ketika dijumpai di lokasi syuting sinetron 7 Manusia Harimau di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Rabu (12/11).

Pemeran Datuk Lebai Karat dalam sinetron ini mengungkapkan, merupakan tantangan baginya, menghadapi cuaca yang berubah sangat ekstrem belakangan. Ia pun berusaha menjaga kondisi kesehatannya dengan meminum vitamin.

Adjie berada di lokasi syuting sejak pukul 08.00 pagi hingga 24.00 WIB. Di pagi hari, cuaca biasanya dingin. Setelah itu sejak pukul 10.00 hingga pukul 14.00 WIB cuaca berubah sangat panas. Namun setelah pukul 15.00 WIB, cuaca kembali berubah, biasanya turun hujan dan sangat dingin hingga dini hari.

Lantaran sinetron ini merupakan sinetron yang ditayangkan setiap hari, sehingga kejar tayang, saat hujan gerimis pun, syuting sering tetap dilanjutkan, agar bisa menyelesaikan satu episode setiap hari.

"Saya harus benar-benar bisa jaga badan," ujar Adjie. Beban yang cukup berat yang dirasakan Adjie, lantaran sinetron 7 Manusia Harimau ini diangkat dari legenda masyarakat Bengkulu dan Jambi. Artinya cerita sinetron itu memang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Adjie merasa ada beban memerankan seseorang yang mempunyai ilmu harimau secara mendekati kebenaran. Pasalnya, jika ia salah membawakan karakter, tentu dirinya akan diprotes oleh masyarakat Bengkulu dan Jambi.

"Saya selalu berusaha bisa benar-benar memerankan tokoh manusia harimau. Kebetulan, beberapa teman saya, juga ada yang mewarisi ilmu harimau itu dari nenek moyangnya. Jadi saya sering konsultasi dengan mereka. Soalnya, kalau karakter saya enggak pas, saya kan bisa mengecewakan mereka," kata Adjie.

Namun yang membuat Adjie merasa nyaman membintangi sinetron legenda ini, karena diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Motinggo Busye. Dan penulis skenarionya adalah Imam Tantowi, seorang sineas yang sangat senior.

"Kalau Motinggo Busye dan Imam Tantowi yang menulis, saya yakin, mereka itu tidak asal menulis. Tetapi berdasarkan riset sebelumnya," kata Adjie.

Keterlibatan Adjie dalam sinetron legenda yang bercampur laga ini, dianggap Adjie sebagai nostalgia. Pasalnya, awal terjunnya Adjie ke sinetron adalah saat membintangi sinetron bergenre sama, yaitu Kaca Benggala, yang penulis skenarionya juga Imam Tantowi, dan penasihat akting laganya Robert Santosa.

"Yah, jadi semacam deja vu gitu. Soalnya sudah belasan tahun saya enggak pernah ketemu dengan Imam Tantowi dan Robert Santosa lagi. Jadi ada rasa kangen juga," kata Adjie.

Diungkapkan Adjie, dulu ketika main dalam sinetron Kaca Benggala di tahun 1997, usianya masih sangat muda. Sehingga napasnya masih sangat kuat. Sedangkan sekarang napasnya tidak sekuat dulu.

"Kalau soal adegan berkelahi, saya memang punya dasar kemampuan bela diri. Jadi enggak ada kesulitan. Cuma napasnya yang tidak sekuat dulu, tetapi sinetron ini lebih besar persentase dramanya ketimbang adegan perkelahiannya kok," ujarnya.

Adjie mengungkapkan, biasanya menjelang syuting adegan perkelahian, ia melakukan peregangan otot-otot terlebih dulu. Biar otot-ototnya tidak mengalami kejang, karena kontraksi yang tiba-tiba.

"Persiapan sebelum syuting, biasanya saya melakukan olahraga ringan dulu. Biar otot-otot saya enggak kaget," katanya.

 

(Cek & Ricek, Edisi 847, 19-25 November 2014)