Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 9

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 11

Notice: Undefined index: lang in /home/t42271/public_html/includes/lang.php on line 17

Notice: Use of undefined constant hostname - assumed 'hostname' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant username - assumed 'username' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant password - assumed 'password' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Deprecated: mysql_pconnect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 3

Notice: Use of undefined constant database - assumed 'database' in /home/t42271/public_html/includes/connect.php on line 4
SINEMART

Latief 'Haji Muhidin' Sitepu : Dipukul Pemirsa, Dicubit Ibu-Ibu

Memerankan tokoh Haji Muhidin di sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Latief Sitepu sering mendapat  periakuan tidak enak dari penonton. Seperti apa?

Begitu kuatnya Latief Si­tepu memerankan tokoh Haji Muhidin di sinetron Tukang Bubur Naik Haji (TBNH) The Series, suatu insiden yang tak diinginkan menimpanya. Seorang pemirsa yang gregetan mendatanginya di lokasi syuting.

"Tanpa banyak bicara, dia langsung nonjok lengan tangan saya. Dia bilang, dari rumah sudah kepikiran mau nonjok karena sebel banget dengan Haji Mu­hidin," cerita pria kelahiran Binjai  10 Mei 1942 itu sambil tertawa.

Setelah sadar apa yang di-lakukannya, laki-laki itu langsung meminta maaf. "Dia bilang, oh ternyata Haji Muhidin itu baik ya orangnya. Bukan seperti Haji Mu­hidin yang di TV," imbuh Latief.

Kali lain, saat makan di sebuah restoran, beberapa ibu datang dan menyubitnya. Tapi meski diperlakukan kurang enak, Latief justru rnengaku bersyukur. "Itu  kan artinya akting saya berhasil, mampu membuai emosi penonton," katanya, masih tertawa.

Di sinetron itu Latief memang kebagian peran Haji Muhidin, tokoh antagonis penuh iri dan dengki. Tapi harus diakui, justru karena kepiawaian Latief mengolah peran Haji Muhidin yang bisa menyentuh emosi penonton, sinetron itu laku keras, terus bertengger di rating atas.

"Menurut saya, tokoh seperti Haji Muhidin dalam hidup sehari-hari sebenarnya ada. Ya seorang haji dengan kelakuan macam-macam," ujarnya kepada Nyata ketika ditemui di acara Halal Biha-lal TBNH The Series, Selasa (20/8), di Cibubur, Jakarta Timur.

Khusus untuk peran Haji Mu­hidin, Latief tidak mengalami kesulitan yang berarti. Dia hanya merasa kesulitan ketika harus menghafalkan dialog. Pasalnya, dialognya seringkali panjang-pan-jang. "Mungkin karena sudah usia ya, kalau dialognya panjang-panjang pusing jadinya," aku Latief.

Karena sudah tidak muda lagi, Latief berusaha untuk menjaga kebugaran tubuhnya. "Jaga kese-hatannya, makan pilih-pilih yang nggak berlemak karena kolesterol. Makan buah dan sayur-sayuran untuk asupan vitamin," urainya.

Latief rnengaku keinginannya menjadi artis karena terinspirasi dua bintang besar di masanya, yaitu Marlon Blando dan Sophia Loren. Sejak kelas 5 SD, ia sudah nonton film-film mereka. "Dulu yang ada di pikir-an, kapan ya sa­ya," kenangnya.

Tapi keingi­nannya menjadi artis tidak mulus, sang ayah tidak mengizinkan. Begitu besar hasrat Latief menjadi seo­rang artis, ia akhirnya ka-bur dari rumah. Sejak itu Latif tinggal di rumah pamannya.

Selama tinggal di rumah pa­mannya, Latief digenjot latihan fisik. "Saat itu, 1963, saya mengikuti tes perekrutan tentara untuk program Ganyang Malaysia. Jadi setiap harinya, harus lari dari Tanjung Priok ke Gawang," cerita Latief.

Setelah lolos seleksi, Latief ditempatkan di wilayah Riau. Tapi ternyata ia batal diberangkatkan ke Malaysia, ka­rena saat itu Indonesia tengah diguncang pemerontakan PKI.

Akhirnya, Latief hanya bertugas sebagai penjaga pantai. Sa­at ditempatkan di Dumai, ia ber-temu pujaan hatinya, Lailawaty Hasibuan, yang dinikahinya pada 1967. Dari perkawinan itu mere­ka dikarunia 6 anak.

Rupanya, Latief masih ingin mewujudkan mimpinya menjadi seorang bintang film. Karena itu ia mengajukan permohonan pindah ke Jakarta.

Dasar nasib baik, belum genap setahun di Jakarta, Latief su­dah mendapat tawaran bermain di sinetron Mawar untuk Dini.

"Saya memang sudah main sinetron, tapi tetap bekerja seba­gai penjaga pantai. Nah kalau mau syuting, saya bohongin komandan, bilang kalau nenek meninggal," kenang Latief sambil sambil tertawa.

Sampai suatu ke­tika, sang komandan menyuruhnya menghadap. "Tadinya takut banget, saya bikin salah apa nih? Ternyata koman­dan kebetulan lihat saya main sinetron. Komandan justru mendukung saya. Dia bilang kalau saya boleh main sine­tron, tinggal diatur jadwalnya supaya tidak mengganggu," beber Latief.

 

(NYATA, Edisi 2200, I September 2013)